Potret Pedagang Keliling Tahun 90-an yang Kini Mulai Jarang Ditemui

Ada masa ketika suara lonceng, peluit, atau teriakan khas pedagang keliling menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Sebelum smartphone, layanan pesan antar, dan marketplace berkembang seperti sekarang, pedagang keliling adalah salah satu wajah paling akrab di lingkungan perumahan.

Mereka datang setiap hari dengan berbagai dagangan, mulai dari makanan, mainan, hingga kebutuhan rumah tangga. Kehadirannya sering kali ditunggu-tunggu, terutama oleh anak-anak yang sudah hafal jam kedatangan mereka.

Sayangnya, seiring perubahan zaman, banyak potret jualan keliling yang dulu begitu umum kini mulai jarang ditemui.

1. Tukang Es Potong

tukang es potong
youtube.com/@StreetFoodsVillage

Bagi generasi 90-an, tukang es potong adalah salah satu sosok yang paling ditunggu saat siang hari.

Dengan gerobak sederhana dan berbagai pilihan warna yang menarik, es potong menjadi jajanan favorit karena harganya terjangkau. Suara bel atau bunyi khas dari gerobaknya sering kali membuat anak-anak berlarian keluar rumah sambil membawa uang receh.

Kini, keberadaan tukang es potong semakin jarang tergantikan oleh minimarket, kafe, dan berbagai produk makanan beku yang lebih mudah ditemukan.

2. Tukang Mainan

tukang mainan keliling
suara.com

Sebelum toko mainan modern menjamur, banyak anak mengenal mainan dari pedagang keliling.

Mereka menjual berbagai barang sederhana seperti pistol-pistolan plastik, mobil-mobilan, baling-baling bambu, gelembung sabun, hingga topeng karakter populer. Meski kualitasnya sederhana, mainan tersebut mampu menghadirkan kebahagiaan yang sulit dilupakan.

Bagi banyak anak era 90-an, membeli mainan dari pedagang keliling adalah pengalaman yang memiliki nilai tersendiri.

3. Tukang Roti Anget

tukang roti anget
jogja.tribunnews.com

Pemandangan tukang roti yang berkeliling menggunakan sepeda dengan kotak besar di bagian belakang pernah menjadi hal yang biasa.

Aroma roti yang baru dipanggang sering kali menjadi penanda kedatangannya. Beberapa menjual roti manis, roti kelapa, hingga kue-kue tradisional yang kini semakin sulit ditemukan.

Saat ini model penjualan seperti itu mulai tergeser oleh toko roti modern dan layanan pemesanan online.

4. Tukang Bakso Pikul

tukang bakso pikul
wowkeren.com

Sebelum gerobak bakso berbahan aluminium banyak digunakan, masih ada pedagang yang menjajakan bakso dengan cara dipikul.

Di satu sisi terdapat panci kuah, sementara sisi lainnya berisi mangkuk dan perlengkapan makan. Meski terlihat sederhana, cara berjualan seperti ini menunjukkan betapa kreatifnya para pedagang dalam menjalankan usahanya dengan modal yang terbatas.

Pemandangan tersebut kini sudah sangat jarang ditemukan di kota-kota besar.

5. Tukang Gulali dan Permen Kapas

tukang gulali
jogja.antaranews.com

Salah satu daya tarik pedagang keliling zaman dulu adalah kemampuan mereka menciptakan hiburan sekaligus menjual dagangan.

Tukang gulali sering membuat bentuk-bentuk unik seperti bunga, ayam, atau sepeda dari gula cair yang diputar dengan cepat. Sementara itu, permen kapas berwarna-warni selalu menjadi incaran anak-anak saat ada pasar malam atau keramaian.

Meski masih ada di beberapa daerah, jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dua atau tiga dekade lalu.

6. Tukang Kerupuk

tukang kerupuk
kompasiana.com

Tukang kerupuk keliling biasanya berjualan dengan cara memikul dua wadah besar berisi aneka kerupuk di bahunya. Mereka menawarkan berbagai jenis kerupuk, seperti kerupuk mie putih, kerupuk bawang, dan kerupuk udang. Namun, ada juga yang hanya menjual kerupuk mie putih.

Kehadiran mereka cukup akrab di lingkungan perkampungan karena memudahkan warga membeli camilan tanpa harus pergi ke pasar. Kini, pemandangan pedagang kerupuk pikul seperti ini semakin jarang ditemui karena masyarakat lebih sering berbelanja di warung-warung.

Mengapa Pedagang Keliling Mulai Berkurang?

Ada banyak faktor yang menyebabkan jumlah pedagang keliling semakin berkurang.

Perubahan pola belanja masyarakat menjadi salah satu alasan utama. Kini orang lebih mudah membeli kebutuhan melalui toko modern, marketplace, atau layanan antar. Selain itu, biaya operasional yang meningkat dan persaingan usaha yang semakin ketat juga membuat sebagian pedagang harus beradaptasi dengan cara berjualan yang baru.

Meski demikian, semangat berwirausaha yang dimiliki para pedagang keliling sebenarnya masih hidup hingga sekarang. Yang berubah hanyalah cara mereka menjajakan dagangan.

Penutup

Pedagang keliling bukan sekadar bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Mereka adalah bagian dari kenangan masa kecil banyak orang Indonesia.

Suara lonceng tukang es, aroma roti dari sepeda tua, hingga teriakan khas para pedagang masih tersimpan dalam ingatan generasi yang tumbuh pada era 80-an, 90-an, dan awal 2000-an.

Meskipun banyak pemandangan tersebut mulai jarang ditemui, semangat untuk berjualan dan mencari nafkah tetap hadir dalam berbagai bentuk baru. Dari gerobak sederhana hingga booth portable modern, perjalanan para pedagang Indonesia menunjukkan bahwa kreativitas selalu mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Baca juga :

Posting Komentar

© 2016- Nostalgiaan. All rights reserved. Developed by Jago Desain